ALIRAN KEPERCAYAAN LOKAL BESERTA HUBUNGANNYA DENGAN NEGARA
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Studi Agama Lokal II
Dosen Pengampuh : Tatang Zakariah, M.Ag.

Oleh :
Andy Gunawan
NIM.
1121020006
FAKULTAS USHULUDIN
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015 M / 1436 H
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
penulis panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya. Shalawat beserta salam semoga terlimpah curahkan kepada Nabi besar
kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan sampai
kepada kita selaku umatnya.
Dalam pembuatan makalah ini penulis
mengumpulkan data dari berbagai sumber yang berhubungan dengan materi Aliran
Kepercayaan Lokal beserta Hubungannya dengan Negara. Di antaranya penulis
membaca beberapa buku literatur dan juga mencari data dari internet.
Berdasarkan beberapa buku yang penulis baca, syukur alhamdulillah penulis dapat
menyusun makalah berjudul “Aliran Kepercayaan Lokal Beserta Hubungannya Dengan Negara” yang merupakan
salah satu tugas mata kuliah Studi Agama lokal II.
Ada kesulitan yang penulis hadapi yaitu
terbatasnya buku literatur yang ada. Tapi, semua kendala tersebut dapat diatasi
berkat semangat dan keyakinan dalam diri. Untuk itu, penulis mengucapkan terima
kasih kepada :
1)
Allah SWT yang selalu memberikan rahmat
kemudahan dan keberhasilan dalam semua kegiatan,
2)
Bapak Tatang Zakariah, M.Ag., selaku
dosen mata kuliah Studi Agama Lokal.
Makalah ini masih jauh dari sempurna dan
masih banyak kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi. Mengingat
penulis masih dalam tahap belajar. Oleh karena itu, penulis mohon kritik dan
saran demi perbaikan karya mendatang.
Semoga makalah ini bermanfaat untuk
perkembangan ilmu pengetahuan. Amin.
Bandung, April 2015
PENULIS
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................……… i
DAFTAR
ISI................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………… 4
BAB II PEMBAHASAN
1.1 Definisi Aliran Kepercayaan…………………………….. 6
1.2 Corak Yang Mempengaruhi Lahirnya Aliran
Kepercayaan
Di
Indonesia……………………………………………… 7
1.3 Sejarah Perkemabangan Aliran Kepercayaan Di
Indonesia 8
1.4 Macam-Macam Aliran Kebatinan Di Indonesia………… 9
1.5 Sifat-Sifat Kebatinan……………………………………. 13
1.6 Inti Dan Pemikiran Aliran Kebatinan…………………. 14
1.7 Motif Masyarakat Menngemari Aliran Kebatinan……. 15
1.8 Aliran Kebatinan Dilihat Dari Kehidupan
Bernegara…. 16
1.9 Hubunagn Aliran Kebatinan Dengan Negara…………. 17
BAB III PENUTUP………………………………………………………. 18
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia adalah
sebuah negara yang mempunyai kebudayaan, suku, adat, istiadat, kepercayaan, dan
agama yang beragam. Ada 6 agama yang diakui saat ini di Indonesia yaitu Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Negara Indonesia mempunyai
semboyan Bhineka Tunggal Ika, semboyan merupakan pernyataan yang digunakan
untuk mengatasi keanekaragaman kepercayaan dan keagamaan yang akan memberikan
nilai-nilai inspiratif dalam sistem negara atau pemerintahan. Bhineka Tunggal
Ika telah menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan ditengah keberagaman.
Aliran kebatinan mulai timbul di Negara Indonesia sejak diraihnya
kemerdekaan. Ini ditandai dengan diadakannya Badan Kongres Kebatinan Indonesia
(BKKI) kelima, yang diadakan di Panaraga
tahun 1963 dengan dihadiri oleh 83 aliran. Kepercayaan masyarakat tradisional
sangat melekat pada nilai-nilai budaya masyarakatnya yang nantinya akan
diturunkan secara turun-temurun. Kebebasan beragama dan mempercayai berbagai
aliran dibebaskan oleh negara. Jaminan pemenuhan hak asasi memeluk kepercayaan
dan agama telah diatur dalam pasal 29 Ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan “Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan
kepercayaanya.”
Kajian tentang aliran
kepercayaan semakin beragam dan semakin banyak, ini disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya :
·
Aliran
kepercayaan banyak menampilkan ajaran bahkan perilaku penganutnya yang unik dan
berbeda. Menurut para penganut agama konvensional atau agama besar (Islam,
Kristen, Hindu, Budha) justru telah mengajarkan ajaran-ajaran yang menyimpang
bahkan menodai.
·
Identitas
aliran kepercayaan masih tetap mewarnai kepercayaan individu meskipun secara
formal ia sudah menganut agama-agama besar. Sebagai contoh, meskipun seseorang
sudah menyatakan dirinya sebagai penganut agama Islam, akan tetapi terkadang
dalam waktu-katu tertentu mempercayai atau memperaktekkan tradisi yang justru
diajarkan oleh agama lokal seperti aliran kepercayaan.
·
Meskipun
keberadaan aliran kepercayaan sangat banyak di Indonesia, akan tetapi
identitasnya masih tetap terpelihara meskipun harus berada dalam sebuah wadah
atau oraganisasi atas bentukan rezim.
Dengan alasan beberapa poin di atas, maka penulis akan mencoba
membahas mengenai definisi aliran kepercayaan, pengelompokan dan macam-macam
aliran kepercayaan, sebab-sebab timbulnya aliran kepercayaan, dan hubungan
antara beragamnya aliran keprcayaan dengan negara. Semoga dengan disusunnya
makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai berbagai aliran kepercayaan
yang ada di Indonesia dan juga mengetahui bagaimana negara menyikapi
keberagaman aliran kepercayaan ini.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Definisi Aliran
Kepercayaan
Aliran kepercayaan
atau disebut juga dengan aliran kebatinan telah muncul sejak Indonesia merdeka.
Peristiwa ini ditandai dengan diadakannya Badan Kongres Kebatinan Indonesia
(BKKI) yang diikuti oleh berbagai aliran yang ada di Indonesia. Banyak aliran
yang turut ikut serta, salah satunya saat diadakan BKKI kelima yang dihadiri 83
aliran. Banyak dari para ahli yang mendefinisikan apa itu aliran kebatinan, tetapi
definisi dari kebatinan sendiri masih belum ada yang memuaskan karena banyak
para ahli yang hanya mengambil definisi dari kata batin saja.
Aliran kepercayaan
adalah paham yang membentuk komunitas, terdiri dari sejumlah orang yang berasal
dari berbagai kepercayaan agama, kemudian mengikatkan diri untuk bersepakat
dalam nilai-nilai kehidupan berdasarkan keyakinan batin. Aliran kepercayaan
sudah berlangsung ratusan tahun di Indonesia. Aliran kepercayaan sifatnya
tersembunyi, maka sangat sulit untuk dirumuskan karena bersifat subjektif.
Diantara pendapat para ahli mengenai definisi aliran kepercayaan
atau aliran kebatinan adalah :
Ø
Kamil
Kartapraja (1985:1) è Aliran Kepercayaan adalah keyakinan masyarakat Indonesia kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan kepercayaan kepada keadaan yang gaib lainnya di luar
agama dan tidak termasuk kedalam agama. Menurut Kamil Kartapraja ada 2 jenis
dari kepercayaan yaitu :
a)
Kepercayaan
yang sifatnya tradisional dan animistis tanpa filosofis dan mistik, contohnya
Parmalin, Palbegu, Kaharingn, Toani Tolatong dan suku terasing.
b)
Kepercayaan
yang ajarannya terdapat filosofis dan mistik. Inilah yang disebut aliran
Kebatinan atau golongan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ø Badan Kongres Kebatinan Indonesia yang dipimpin oleh
Mr.Wongsonegoro tahun 1962 è
mengartikan Kebatinan sebagai sumber azas dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa
untuk mencapai budi luhur guna kesempurnaan hidup.
Ø M. Asad El-Hafidy (1977:87) è
Kepercayaan adalah suatu faham dogmatis yang terjalin dengan adat istiadat
hidup dari berbagai macam suku bangsa. Sedangkan Kebatinan adalah sumber rasa
dan kemauan untuk mencapai kebenaran, kenyataan kesempurnaan dan kebahagiaan
hidup.
Ø Hilman Hadikusumo (1993:85) è
Kebatinan adalah asal kata dari “batin” yang artinya bagian tubuh manusia. Kebatinan dapat
diartikam Ilmu yang berusaha mempelajari arti yang dalam dan tersembunyi dalam
kitab suci.
Ø Mertodipuro dalam R.Rahmat Subagia è
Agama Asli Indonesia: (1981:25), Kebatinan adalah cara ala Indonesia untuk mendapatkan kebahagiaan.
Ø Harun Hadiwiyono, (Pustaka
1978 : 11) è Mengartikan Kebatinan adalah suatu aliran yang mencari kelepasan
atau keselamatan yang dipandangnya sebagai terdiri dari persekutuan antara manusia dengan Allah dengan menyelam
kedalam dirinya sendiri.
Jadi menurut pemahaman penulis aliran kepercayaan itu adalah sebuah
aliran kerohanian dan kejiwaan yang tumbuh dari penyatuan berbagai agama untuk
mencapai kebahagian serta kesempurnaan
hidup
1.2 Corak yang
Mempengaruhi Lahirnya Aliran Kepercayaan Di Indonesia
Prof. Muhammad Muhsin Djayadiguna mengemukakan pendapatnya, bahwa
ada 4 corak yang melatarbelakangi lahirnya aliran kepercayaan di Indonesia dan
corak inilah yang mempengaruhi para penganut bisa mempercayai sebuah aliran
kepercayaan atau kebatinan. Ke-4 corak tersebut adalah :
a)
Science
Occulties : Golongan yang hendak menggunakan kekuatan gaib untuk melayani
berbagai kebutuhan manusia.
b)
Mysticisme :
Golongan yang berusaha menyatukan jiwa manusia dengan Tuhan selama manusia
hidup agar dapat merasakan dan mengetahui hidup yang baqa sebelum mati.
c)
Metaphysic
: Golongan yang berniat mengenal tuhan dan menembus alam Rahasia
“Paransangkaning Dumadi” yaitu dari mana manusia ini dan kemana hidup itu
akhirnya pergi.
d)
Morale Religius
: Golongan yang berhasrat untuk menempuh budi luhur di dunia ini serta
berusaha menciptakan masyarakat yang berdasarkan cinta kasih serta mengindahkan
perintah Tuhan.
1.3 Sejarah Perkembangan
Aliran Kepercayaan Di Indonesia
Negara Indonesia menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan
kepercayaannya, hal ini tercantum dalam pasal 29 Ayat 2 UUD 1945. Kata
“kepercayaan” merupakan usul dari
Mr.Wongsonegoro dengan arti kebatinan.
Pada awal
kemerdekaan sampai tahun 1950 aliran kepercayaan di seluruh Indonesia berjumlah 78 aliran. Tahun
1953 Departemen Agama memberitahukan adanya 360 agama baru. Dengan banyaknya
pengakuan aliran kebatinan sebagai agama, departemen agama mendirikan PAKEM
(Pengawasan Aliran dan Kepercayaan Masyarakat) dengan maksud mengadakan pengawasan. Pada tahun 1955 BKKI didirikan di
Semarang oleh Mr.Wongsonegoro (mantan Menteri PPK). BKKI mendefinsikan Kebatinan adalah “Sepi ing pamrih rame ing
gawe”
Pada tahun 1959
Dewan Musyawarah BKKI mengajukan permohonan kepada Presiden untuk mensetarakan
kebatinan dengan agama-agama resmi. Akan tetapi aliran kebatinan sering
menimbulkan keresahan dimasyarakat dan
sering menimbulkan penodaan pada
agama resmi yang diakui pemerintah. Akhirnya
pada tahun 1965 kebatinan di larang oleh kejaksaan Agung, sehingga tahun 1971
jumlahnya menjadi 167.
Tahun 1972 jumlah
aliran Kepercayaan bertambah 644 aliran. Pada tahun ini diadakan Perayaan 1 Suro di Istora Senayan disambut oleh Presiden yang
mendesak pembangunan rohani, memisahkan kebatinan dari Agama. Pada tahun 1973 diberikan
pengakuan resmi dalam ketetapan IV, MPR 22 Maret 1973 dengan rumusan :
a)
Atas dasar
Kepercayaan Bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa maka peri kehidupan
beragama dan peri kehidupan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa didasarkan
atas kebebasan menghayati dan mengamalkan Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan
Falsafah Pancasila.
b)
Pembangunan
Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ditujukan untuk pembinaan
suasana hidup rukun di antara sesama umat beragama sesama penganut Kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta meningkatkan amal dalam bersama sama
membangun masyarakat.
Pembinaan terhadap kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa di lakukan
dengan alasan :
a)
Agar tidak
mengarah kepada pembentukan agama baru
b)
Mengefektifkan
pengamabilan langkah yang perlu agar pelaksanaan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa benar-benar sesuai dengan Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab
Kemudian Presiden Suharto memberikan penjelasan dalam pidato
Kenegaraan tanggal 16 Agustus 1978 yang berbunyi :
a)
Kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dalam kenyataannya memang merupakan bagian
dari Kebudaan nasional kita
b)
Kepercayaan
tehadap Tuhan Yang Maha Esa bukanlah agama dan juga bukan agama baru. Karena
itu tidak perlu dibandingkan apalagi dipertentangkan dengan agama.
1.4 Macam-Macam Aliran
Kepercayaan Di Indonesia
Jumlah aliran kepercayaan di Indonesia sangat banyak dan beragam.
Tapi disini, penulis hanya akan membahas 5 aliran kepercayaan saja, karena
telah dianggap mewakili semua aliran yang ada. Bukan hanya dalam ajarannya
saja, tapi dengan caranya menyesuaikan diri terhadap zaman modern. 5 aliran
kepercayaan itu adalah Paguyuban Sumarah, Sapta Darma, Bratakesawa,
Pangestu, Dan Paryana Suryadipura.
1.
Paguyuban
Sumarah
Didirikan
di Yogyakarta tahun 1950 oleh dr. Soerono Prodjohoesodho. Tetapi ajaran sumarah
telah diwahyukan kepada R. NG. Soekirnohartono, seorang pegawai kesultanan
Yogyakarta. Saat itu Indonesia berada
dalam kondisi yang bergolak karena menuntut perbaikan nasib dengan dibentuknya
suatu parlemen yang sungguh-sungguh. Ini menimbulkan keprihatinan dari diri R.
NG. Soekirnohartono. Akhirnya ia melakukan tirakat memohon kepada Tuhan agar
bangsa Indonesia bisa cepat merdeka dan mengaku mendapat wahyu untuk menyampaikan ilmu sumarah kepada umat
manusia.
Menurut dr.
Soeroni ilmu sumarah adalah suatu ilmu kebatinan melalui sujud sumarah
(menyerahkan diri) sampai tercapai kesatuan jiwa dengan Dzat Yang Maha Kuasa.
Ilmu sumarah diajarkan dengan sistim pengasuhan bukan sistim perguruan yang
disesuaikan dengan keadaan zaman artinya ajaran sumarah diajarkan secara
bertingkat. Kalau dianalogikan seperti seorang mahasiswa yang sedang mecari
ilmu di sebuah perguruan tinggi. Tujuan aliran sumarah adalah mencapai
ketentraman lahir dan batin dengan memberikan kesanggupan, ikut serta
menegakkan negara menuju perdamaian, dan membimbing keutamaan kehidupan lahir.
Pokok ajaran aliran sumarah adalah sujud yang diartikan persekutuan dengan
Tuhan melalui meditasi (merenung). Orang dikatakan telah mencapai sujud sumarah
saat sudah berhasil menyatakan angan-angan, rasa dan budi.
Dalam aliran
sumarah ada 9 fasal yang dinamakan sesanggeman sebagai akta kesanggupan,
yaitu :
a)
Kepercayaan
kepada Allah, nabi-Nya, dan kitab-Nya
b)
Kesanggupan
untuk senantiasa ingat kepada Allah
c)
Pembangunan
watak, kesucian hati dan roh
d)
Mempererat persaudaraan
yang yang berdasarkan kasih
e)
Mengembangkan
kewajiban hidup bernegara dan bermasyarakat
f)
Sanggup
bertindak benar
g)
Menjauhkan diri
dari perbuatan jahat
h)
Rajin
memperluas pengetahuan lahir batin
i)
Tidak fanatic
Bila
9 fasal ini telah disanggupi maka akan diadakan latihan sujud oleh Pamong
Pemagang. Latihan pertama menenagkan panca indera, kemudian Warono
(pemimpin umum) yang dianggap sebagai corong Tuhan akan membimbing mengenai wewarah
(ajaran) yang berhubungan dengan ilmu sumarah.
Jadi,
aliran kepercayaan paguyuban sumarah dapat dipandang sebgaai tempat latihan
sujud dan ajaran sumarah mewakili semua aliran ajaran kebatinan yang sederhana
dalam ajrannya.
2.
Sapta Dharma
Sapta
darma mempunyai arti 7 kewajiban atau 7 amalan suci yang didirikan oleh Hardjosapoero
dari Pare, Kediri. Sapta darma diwahyukan pada tanggal 27 Desember 1952 pukul 1
malam. Pada waktu itu Hardjosapoero digerakan seluruh tubuhnya yang sekarang
dijadikan pedoman gerakan persujudan sapta darma, sambil mengucapkan beberapa
kalimat yang sekarang juga digunakan sebagai bacaan dalam upacara persujudan
sapta darma. Keesokan harinya, Hardjosapoero mengunjungi rumah temannya untuk
menceritakan kejadian tersebut. Setelah diceritakan temannyapun mengalami hal
yang sama seperti Hardjosapoero, tubuhnya bergerak-gerak sendiri. Ini terjadi
setiap Hardjosapoero mengunjungi temannya dan menceritakannya. Kejadian ini
terjadi kepada 6 teman Hardjosapoero.
Saat
sedang berkumpul bersama 6 temannya, Hardjosapoero mengalaimi Racut
yaitu mengalami mati didalam hidup , dimana Hardjosapoero meninggalakn badan
wadagnya (jasmaninya), naik ke atas kemudian masuk kedalam sebuah masjid besar
yang indah dan melakukan sujud di pengimaman. Sesudah itu Hardjosapoero bertemu
seseorang yang bercahaya, kemudian mengangkatnya, mengayun-ayunkannya, dan
dibawa kesebuah perigi ayng penuh air yaitu Sumur Gumuling dan Sumur Jolotundo.
Hardjosapoero diberikan 2 buah keris Nogososro dan Bendosugodo. Setelah itu
Hardjosapoero diperintahkan kembali dan Ia terbangun lalu hidup kembali.
Sapta
darma adalah suatu tempat latihan sujud. Sujud sapta darma artinya bertelut dan
menundukan kepala hingga menyentuh tanah (pengertian sujud yang asli). Inti sari dari ajaran sapta darma adalah Menghayu-Hayu
Bagya Bawana artinya agar hidup manusia bahagia dunia dan akhirat. Lebih
lengkapnya intisari dari ajaran sapta darma ini adalah :
a)
Menanamkan kepercayaan
dengan keyakinan Allah itu ada dan Esa
b)
Melatih
kesempurnaan sujud
c)
Mendidik
manusia untuk suci dan jujur
d)
Hidup teratur
Sapta Darma beranggotakan orang-orang dari daerah pedesaan dan
orang-orang pekerja kasar yang tinggal di kota-kota. Walaupun demikian para
pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yang berisi ajarannya adalah Kitab
Pewarah Sapta Dharma.
3. Ajaran
Bratakesawa
Bratkesawa adalah pensiunan wartawan
dari Yogyakarta yang menulis buku Kunci Swarga. Bukunya menuraikan
tentang I`tikad kepada Tuhan Yang Maha Esa, menurut salah satu faham yang
uaraiannya berdasarkan dalil naqli (kitab tuhan) dan dalik akli (hasil
pemikiran akal). Dalam buku ini dibahas tentang Allah, Manusia, dan
Kelepasan. Bratkesawa saberusaha
mendasarkan pandangannya atas dasar Al-Quran.
4. Ajaran
Pangestu
Pangestu adalah
singkatan dari Paguyuban Ngesti Tunggal artinya perstuan untuk dapat
bertunggal. Didirikan pada tanggal 20 Mei 1949 di Surakarta. Tapitelah lama
diwahyukan pada 14 Februari 1932 (dalam Serat Sasangka Jati) kepada R.
Soenarto Mertowordojo dirumahnya di Widuran, Surakarta.
Sejak kecil, R.
Soenarto Mertowordojo sudah mencari-cari jalan benar tuntuna illahi dengan
berguru ke banyak guru. Tapi tidak ada hasil yang memuaskan kemudian beliau
memutuskan tidak berguru lagi. Suatu waktu R. Soenarto Mertowordojo sedang
melakukan shlat dhaim kemudian merasa terlena, kantuk, merasa ada dan tidak ada
dan mendengar suara didalam hatinya “Ketahuilah olehmu yang namanya ilmu sejati
adalah petunuj yang nyata, yaitu jalan yang benar yag sampai pada asal muasal
hidup.” Beliau merasa takut dan kemudian terdengar lagi suara : “Aku Suksma
Sejati yang menghidupi sekalian alam bertakhta didalam semua sifat hidup, aku
utusan Tuhan yang abadi, yang menjadi pemimpin, pembimbing, dan gurumu yang
sejati ialah Guru Semesta Alam. Aku datang menyampaikan Anugerah Tuhan.”
Aliran pangestu
bertujuan mengantarkan manusia pada kesejahteraan abadi di pangkuan Sang Suksma
Kawekas (Tuhan Allah) dan memperkokoh kesejahteraan umatnya bagi bangsa dan
negara. Siapa saja bisa menjadi anggota aliran panegstu, asal sudah encapai
usia 17 tahun. Inti pertemuan aliran pangestu terdapat di dalam Rasa yaitu
pertemuan warga guna mempelajari ajaran dari Sang Guru Illahi.
5. Ajaran
Paryana Suryadipura
R. Paryana Suryadipura adaalh seorang dokter yang pada tahun 1950
menulis sebuah buku berjudul Alam Pikiran tentang proses berpikir yang menuntut
kebahgiaan hidup baik untuk sendiri, keluarga, agama, nusa, dan bangsa.
Dikemukakan mengenai mekano-energetis (tenaga dan syahwat). Maksudnya
bahwa berfikir terjadi karena aliran listrik dari otak yangmasuk melalui panca
indera. Utamanya adalah hukum kekekalan tenaga dan tenaga. R. Paryana
Suryadipura mengemukakan teori baru dibidang antropologia biologi dengan
memakai dasar kebatinan.
1.5 Sifat-Sifat
Kebatinan
Ø Batin
Batin berada di dalam manusia lawan dari lahir. Batin berasal dari
bahasa Arab artinya perut, rasa mendalam, tersembunyi, rohani, dan azas.
Kebatinan pada umunya menunjukkan segala
usaha dan gerakan untuk merealisasikan
daya batin. Bagi mereka segala usaha yang bersifat lahir akan kembali
kepada azas kebatinan yaitu roh.
Ø Rasa
Sifat rasa berkaitan dengan sifat batin. Disebut juga pengalaman
rohani subyektif, reaksi atas tradisi kolot dimana agama terdiri dari dari
penghayatan bahasa yang tidak dimengerti artinya, ketaatan kepada
peraturan yang tidak dilihat gunanya,
dan iman kepada wahyu yang diantarkan oleh orang lain. Semua itu menyiapkan
manusia untuk menerima wahyu sendiri, mendengar suara di dalam hati, dan
melukiskan hal-hal yang membuat rasa tentram dan puas.
Ø Keaslian
Para Penganjur kebatinan
merasa bangga bahwa disamping sekian banyak pengikut religius, yang
berasalkan dari mereka itu satu-satunya
yang asli. Mereka memakai bahasa pribumi, upacara, dan ibadat setempat serta
gaya hidup yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Mereka mampu menggali kekayaan
rohani yg terpendam dalam jiwa bangsa secara penuh. Dan inilah daya tarik aliran kebatinan yg mampu menawan perhatian ribuan orang
karena keasliannya.
Ø Daya Gaib
Merupakan daya tarik bagi ribuan orang, pengaruh nujum, magic,
ocultisme, ilmu alamat, pertanda, sakti, zimat, mantera dan rapal, hipnotis,
werejit, tenung, pelet. Dan inilah faham alam pemikiran pada abad lampau yang
pernah berkembang di negara ini. Dalam buku Mr.Wongsonegoro dikataka “Kebatinan
dan Ilmu Gaib merupakan Dwitunggal”
Ø Sifat Etis
Banyaknya kasus kemorosotan
moral, kebobrokan akhlak, menggambarkan seakan-akan nilai tatanan moral dan
kaidah-kaiadah masyarakat tidak digunaka. Kemudian timbul protes dikalangan
kebatinan, menyerukan agar semua orang kembali pada “Budi Luhur Sepi
Ingpamrih Rame Ing Gawe”
Dilihat
dari dasar ontologi atau metafisikanya
yaitu pandangan tentang hakikat Tuhan, alam dan manusia. Aliran kebatinan
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
Ø Aliran Kebatinan yang bersifat panteistis, karena menggambarkan adanya kesamaan antara manusia dengan Tuhan.
Setidak menggambarkan imanen Tuhan di dalam diri manusia. Misalnya
Pangestu,Sapta Darma, Sumarah, Perikemanusiaan, Kepribaden, Bratakesawa.
Ø Sifat kebatinan yang mempunyai kecenderungan animistis atau ada
unsur animisme Artinya adanya
kecenderungan kepercayaan kepada ruh-ruh nenek moyang yang memberikan
pertolongan dan mendatangkan bahaya kepada masyarakat.
Ø Sifat yang memberikan penekanan tujuan duniawi dengan ungkapan yang
menunjukkan keterikatannya dengan masa kini dan tidak jelas konsep
ketuhanannya, serta tidak sejalan dengan pemahaman pada umumnya yang bersifat
kerohanian dan kebatinan.
1.6 Inti dan Pemikiran Aliran Kebatinan
I.
Rahmat Subagya
a)
Usaha
mengintegrasian diri è
Mencapai budi luhur dengan cara : menekung, olah rasa, eling, mawas diri, dasa
sila, semadi, mateng meleng, cipta rasa dan karsa, yoga, pantang tapa brata,
miji, ciptaning, wangsit, dikir sujud, dan menyingkap maya.
b)
Pengalaman
peralihan (Transformasi) beralih dari kondisi semula dan mengalami identitas
baru.Identitas baru itu bisa disebut, keadaan suwung : Tanpa hawa nafsu, sunyi,
senyap, sunyata, lebur, mati sajeroning urif, pleng kompleng, teofani (hadirnya
Tuhan dlm manusia) manusia, Gambuh, Racut, Yoga, tekad manunggal dengan gusti.
c)
Berkat
ditranformasi tercapailah identitas
dengan jiwa alam, kekuasaan insani, maka terjadi daya luar biasa dan
keajaiba. Seperti ramalan, telepati, Bilokasi (hadir dalam dua tempat satu
waktu), xenolali (bicara bahasa tidakn dikenal), telekinese (menggerakkan sesuatu
tanpa menyentuhnya), psyhurgi (menyembuhkan penyakit dengan daya budi),
invulnerability (kebal terhadap senjata). Daya daya gaib ini hampir ditekuni
oleh semua aliran kebatinan, dan ini merupakan
sumbangan bagi pembangunan katanyas.
1.7 Motif Masyarakat
Menggemari Aliran Kebatinan
a)
M.M.
Djojodiguna è
Alasan orang Indonesia menganut aliran kebatinan karena para pemimpin agama
kurang memperhatikan soal kebatinan dan tidak cakap dalam menyimpulkan ajaran
agamanya dalam prinsip-prinsip pokok yang sederhana, yang mudah dipergunakan
sebagai pegangan bagi seorang manusia, bagaimana ia harus menentukan sikapnya,
tingkah lakunya terhadap Tuhan, dan terhadap sesama manusia dalam menghadapi
berbagai kesulitan sehari-hari.
b)
HM. Rasyidi è Menurutnya hal ini terjadi karena para ulama pada masa lampau
banyak yang hanya mengetahui kitab-kitab yang dipelajari di dan kitab-kitab
yang dipelajarinya tersebut hanya pelajaran bahasa Arab dan fikih yang secara
metodologi dan isinya telah usang. Karena itu-lah maka para ulama tersebut
tidak dapat menjiwai pesan Islam, mereka hanya merasakan formalitas
semata-mata.
c)
Selain alasan
itu, kondisi Indonesia sendiri yang masih terdapat kalangan orang-orang Jawa
abangan, agama suku pedalaman yang memiliki latar belakang tradisi kebudayaan
spiritual nenek moyang yang masih kuat yang dipengaruhi oleh spiritualitas
Hindu-Budha atau Hindu-Jawa. Dalam kasus aliran kebatinan ini, mereka yang Jawa
abangan ini kemudian menganut kepercayaan kejawen atau aliran kebatinan
tertentu yang sesuai dengan pandangan hidupnya.
1.8 Aliran Kebatinan
Dilihat dari Kehidupan Bernegara
Agama dan
kebatinan merupakan hal yang bersifat pribadi. Perbedaan pandangan di dalamnya
tidak dipermasalahkan selama tidak menyentuh langsung privasi dan menekankan
pada kehidupan yang rasional dan tidak mempermasalahkan kepercayaan seseorang.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak membawa urusan agama atau urusan pribadi
lainnya, tetapi lebih menekankan kepentingan bersama dan kemampuan manusia
sendiri untuk mengatur dan mengusahakan jalan hidupnya sendiri.
Tetapi di
Indonesia, sikap toleransi belum sepenuhnya terlaksana. Sebagian masyarakatnya
masih hidup dengan memelihara budaya lama. Agama dan kebatinan merupakan bagian
hidup dan sebagian lagi menggantikan kehidupan budaya lama dengan kehidupan
yang agamis dan ada yang "memaksakan" agamanya kepada negara atau
orang lain. Sebagian lagi berusaha untuk hidup rasional, tidak terkekang dalam
urusan fanatisme agama. Sebagian lagi tidak peduli dengan urusan agama ataupun budaya,
hidup menurut jalan prinsip hidupnya sendiri.
Di
Indonesia sebagian masyarakatnya tidak menghargai privasi, tidak menghargai
kehidupan religi dan kepercayaan orang lain, tidak menghargai hidup rukun dan
kebersamaan, memaksakan egoisme pribadinya terhadap orang lain yang tidak
sejalan. Konflik kesukuan dan agama sering terjadi karena adanya orang-orang
yang memaksakan egoismenya.
Di dalam
sikap hidup kebatinan ada laku dan ritual yang dilakukan manusia, seperti puasa
mutih, puasa senin-kamis, wiridan, zikir, pengajian, doa bersama, tahlilan,
selametan, dan lain-lain. Tetapi sikap dan laku dalam berkebatinan tidak selalu
harus ditunjukkan dengan laku tertentu yang kelihatan mata, karena kebatinan
berisi sikap hati dan pandangan pribadi yang semuanya tidak selalu terwujud
dalam laku dan ritual yang kelihatan mata.
Demikian
lah masyarakat bangsa indonesia menyikapi berbagai aliran kebatinannya. Jika
kebatinan dipandang sesuai hakekatnya, sesuai arti dan maknanya, jika orang mau
mengakui seseorang yang memandang kebatinan dan aliran kebatinan, maka
kehidupan berbangsa dan bernegara akan teratur dan sangat tumbuh sikap
toleransi antar umat.
1.9 Hubungan Aliran
Kebatinan dengan Negara
Negara tidak pernah mempermasalahkan berbagai macam aliran
kepercayaan yang berkembang, selama aliran tersebut masih dalam batas kewajaran
dan tidak tergolong ke dalam kriteria sesat yang ditetapkan oleh MUI. Ini
dibuktikan dengam diberlakukannya pasal 29 Ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi : “Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan
kepercayaanya.”
Hubungan aliran kepercayaan dengan negara sangat terlihat pada 2
aliran kepercayaan yang mewakili semua aliran kepercayaan karena ajarannya yag
sederhana, yaitu Aliran Paguyuban Sumarah Dan Sapta Darma. Aliran Paguyuban
Sumarah mempunyai tujuan mencapai ketentraman lahir dan batin dengan
memberikan kesanggupan, ikut serta menegakkan negara menuju perdamaian, dan
membimbing keutamaan kehidupan lahir dan Aliran Sapta Darma mempunyai
inti ajran mengenai bagaimana mendidik manusia untuk suci dan jujur serta untuk
hidup yang teratur. Ke dua aliran ini mengajarkan bagaimana caranya bersujud
untuk berserah kepada Allah dengan berserah yang sebenar-benarnya. Jika sudah
demikian, maka akhlak manusia akan lebih teratur dan tidak dikuasai nafsu.
Sehingga dalam menjalankan kehidupan bernegara akan lebih teratur dan
terjauhkan dari berbagai konflik.
Jadi, hubungan antara negara dengan aliran kebatinan atau
kepercayaan adalah dalam hal menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang
adil, teratur, damai, mempunayai rasa nasionalisme, menjaga keamanan negara,
dan mencegah konflik yang menimbulkan perpecahan.
BAB III
KESIMPULAN
Aliran kepercayaan atau kebatinan telah muncul di Indonesia sejak
sebelum diperoleh kemerdekaan. Ditandai dengan diadakannya Badan Kongres
Kebatinan Indonesia (BKKI) yang diikuti oleh banyak aliran di Indonesia. Banyak
sekali jumlah aliran yang terdapat di Indonesia. Tetapi ada 5 aliran yang dapat
dipandang mewakili semua aliran kepercayaan yang ada, bukan hanya dalam
ajarannya saja tapi juga dalam caranya menyesuaikan dengan perkembangan zaman. 5
aliran kepercayaan itu adalah Paguyuban Sumarah, Sapta Darma, Bratakesawa,
Pangestu, Dan Paryana Suryadipura.
Aliran Paguyuban Sumarah dan Sapta Darma telah
mewakili semua aliran kepercayaan yang memiliki ajaran sederhana. Aliran Bratakesawa
berusaha mendasarkan pandangannya atas Al-Quran seperti dalam buku yang berjudul
“Kunci Swarga”. Aliran Pangestu adalah aliran yang dipengaruhi agama
Kristen yang pernah digunakan sebagai dasar pemikiran modern atau ilmiah dalam
bidang ilmu jiwa. Aliran Paryana Suryadipura mengemukakan teori baru di
budang Antrophologia biologi dengan dasar kebatinan.
Coin Casino - Choose a Favorite Casino from 2021!
BalasHapusJoin our new and improved selection of casino games, 제왕카지노 and choose a Casino of your choice today. Our casino will give you 코인카지노 the 카지노사이트 chance to play casino games